Sejak minggu lalu si mbak pulang kampung, karena putra sulungnya sakit. Ini berarti tugas rutin si mbak terpaksa diambil alih dan dibagi bertiga: saya, istri dan sang putra tunggal. Tentu saja tidak dengan pembagian yang sama rata, namun seimbang dan dapat diterima oleh semuanya.
Saat ini saya hanya berdua di rumah dengan sang putra yang sedang asik menekuni tugas sekolahnya. Mencari-cari apa yang masih terbengkalai, ahirnya saya putuskan untuk mencuci piring.
Mencuci piring bukanlah pekerjaan yang sulit, namun jika dilakukan setengah hati akan menjadi pekerjaan yang berat dan membosankan, jika dilakukan dengan tergesa-gesa, akan banyak piring yang menjadi korban ketergesaan.
Sebelum memulai mencuci piring, harus sudah pastikan bahwa ketersediaan insfrastruktur dan perangkat yang diperlukan. Tempat mencuci dan tempat penyimpan piring yang telah dicuci, air pembilas, sabun pembersih serta sabut pembersih dan waktu pengerjaan yang cukup. Idealnya semua sarana ini dalam keadaan bersih untuk mendapatkan hasil cucian yang bersih. Ideal adalah ideal. Mutlak! dan kita dalam kehidupan nyata hanya dapat mendekati keadaan ideal, namun itu tidak berarti kita tidak dapat melakukan kegiatan cuci piring.
Minimal kita punya sabut pembersih dan air pembilas yang besih, dan kita dapat menghasilkan cucian yang bersih.
Sambil mencuci, pikiran melantur pada berita hangat yang tergesa-gesa ditutup dengan pemberitaan SEA Games 26........ Seandainya..... hanya seandainya kita punya kita punya penegakan tipikor yang bersih, mungkin kita sudah dapat mulai melakukan bersih-bersih, tanpa harus menunggu tersedianya semua sistem yang bersih. Ideal itu memang sempurnya, hanya ada dibuku-buku teori.
Praaaaaang.................. uuups, ternyata cuci piring juga tidak dapat dilakukan sambil melamun agar tak jatuh korban.
0 comments:
Post a Comment