Novel ini menarik pembacanya untuk terus penasaran dan melanjutkan membaca halaman-halaman berikutnya. Antiklimaks cerita, ketika kesadaran "Nono" pulih, masih diikuti oleh kejutan berikutnya sebelum pembaca tiba di bab terakhir buku ini.
Dua hal yang mengganggu pada novel ini justru terdapat dibagian depan Novel ini (dan kebetulan keduanya menyangkut soal waktu).
Pertama adalah Setting perang revolusi yang tidak semasa dengan setting utama cerita ini, yakni pada abad ke 15. Cukup membingungkan pembaca di awal cerita, untuk mendapatkan waktu yang sesungguhnya.
Yang kedua adalah komentar (yang mestinya sudah di-approve oleh penulis) "Waktunya anak negeri unjuk gigi" seakan-akan saat ini adalah dimulainya jenis cerita remaja petualang waktu berlatar lokal. Padalah kita tahu bahwa novel sejenis pernah ditulis Djokolelono di tahun 70-an "Terlontar ke Masa Silam" yang berlatar Singosari.
Bagaimanapun, novel ini sangat menarik sehingga kekurangan tersebut menjadi tidak berarti, dibandingkan dengan isi cerita secara keseluruhan, terutama bagi remaja yang menjadi sasaran pembaca novel ini.
Novel "Anak Rembulan" ini membangkitkan nostalgia akan novel-novel Djokolelono terdahulu, di era "Pustaka Jaya". Mungkinkah novel-novel tersebut produksi ulang? atau akankah terbit versi eBooknya, agar masih dapat dinikmati oleh anak, cucu.
-Bahtera Jaya-
0 comments:
Post a Comment